Memperingati Maulud Nabi

Petikan ini Saya copy paste dengan tujuan meng-share-kan Artikel ini, agar sesiapa yang akan membaca blog ini setidak-tidaknya dapatlah juga mereka mengingati junjungan  kita, Nabi Muhammad SAW. Kebanyakan remaja yang beragama Islam pada masa kini  telah leka dan sibuk dengan urusan mereka sendiri. Hanyut dengan budaya asing hingga lupa pada ajaran agama  Islam.  Degan itu saya mempostkan artikel ini kedalam blog saya. Manalah tahu ada yang dapat masuk secara tak sengaja ke blog  ini dan terbaca artikel ini dapatlah juga mereka mengingati Kelahiran Nabi kita dan seterusnya Agama kita Islam.

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw sabdanya: “Sesiapa yang ditanyakan kepadanya mengenai sesuatu ilmu (agama), lalu ia menyembunyikannya nescaya Allah mengekang mulutnya dengan kekang dari api neraka, pada hari kiamat kelak.” [ Abu Daud dan Tirmiz.

Oleh itu saya share apa yang saya fikir perlu saya share untuk umum.

Hukum memperingati maulid nabi
Allah telah memerintah nabinya untuk mengikuti syari’atnya dalam
beribadah kepadanya, dan melarang mengikuti hawa nafsu, dalam banyak ayat
Allah memerintah nabinya untuk mengikuti wahyu. Ulama mengatakan bahwa
ibadah harus didasari wahyu, dan tidak berdasarkan akal fikiran manusia.
Allah SWT memberi karunia kepada hambanya dengan mengutus
rasulnya SAW, bukan dengan kelahirannya, oleh karena itu pada hari kelahiran
nabi s.a.w para salafus shalih tidak melakukan amal perbuatan yang lebih dari
hari-hari lain, dan tidak menganggap hari kelahiran nabi sebagai hari istimewa
yang perlu diperingati, dirayakan atau dikaitkan dengan suatu hal yang
dianggap penting, lihatlah misalnya Umar bin Khattab t ketika akan menetapkan
awal tahun hijriyah, beliau tidak memulainya dari hari atau bulan kelahiran nabi
s.a.w, namun memulainya dengan tanggal kemenangan nabi SAW.
Peringatan maulid nabi tidak pernah dilakukan oleh rasulullah, para
sahabat, para tabi’in, maupun para imam madzhab seperti imam syafi’I, imam
malik, Ahmad bin hambal dan Abu Hanifah, akan tetapi yang pertama kali
mengadakan peringatan maulid nabi adalah para khalifah fatimiyah pada abad
keempat hijriyah, bahkan mereka bukan hanya memperingati hari kelahiran
nabi, akan tetapi mereka juga memperingati hari kelahiran imam Ali, Fatimah,
hasan, dan Husain. Sebelumnya umat islam tidak mengenal yang namanya
peringatan maulid nabi s.a.w.
Sebenarnya para ahli sejarah berbeda pendapat tentang bulan kelahiran
nabi s.a.w, ada yang mengatakan nabi dilahirkan pada bulan ramadhan, namun
mayoritas mereka mengatakan bahwa nabi s.a.w dilahirkan pada bulan rabiul
awwal. Kemudian mereka juga berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran nabi
s.a.w. Ibnu Abdil barr mengatakan beliau lahir pada tanggal dua, ada yang
mengatakan tanggal delapan, ini didukung oleh ibnu Hazm dan kebanyakan ahli
hadits, ada yang mengatakan pada tanggal sembilah, ini dikuatkan oleh abul
hasan an-Nadawi dan zahid al-kaustari, ada yang mengatakan tanggal sepuluh,
ini dikatakan oleh al-Baqir, ada yang mengatakan pada tanggal dua belas, ini
ditegaskan oleh Ibnu Ishaq, ada yang mengatakan tanggal tujuh belas, dan ada
yang mengatakan tanggal delapan belas rabi’ul awwal.
2
Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak begitu memperhatikan
tanggal kelahiran nabi, karena tidak ada ibadah yang berkaitan dengan hari
kelahirannya, sebab kalau seandianya ada, niscaya diriwayatkan kepada kita.
Kemudian perlu diketahui bahwa tanggal dua belas rabi’ul awal juga
merupakan hari meninggalnya rasulullah s.a.w, jadi bergembira pada hari itu
tidak lebih baik dari bersedih, selain itu bila diperhatikan, peringatan maulid
nabi banyak menyebar di Negara-negara yang bertetangga dengan Kristen,
seperti di suriah dan mesir. Orang-orang nasrani merayakan hari kelahiran Isa
u, dan itu merupakan sebab orang-orang islam mengadakan perayaan hari besar
karena mengikuti tradisi mereka.
Kecintaan kepada nabi SAW bukan dibuktikan dengan memperingati hari
kelahirannya, namun dengan mengikuti sunnahnya, melaksanakan perintahnya
dan menjauhi larangannya, dan gembira dengan nabi SAW bukan hanya pada
waktu-waktu tertentu, seperti hanya di bulan rabi’ul awal, tetapi sepanjang
masa.
Nabi saw telah melarang umatnya berlebihan dalam memuji dan
mengagungkan beliau, beliu bersabda: janganlah kalian belebihan terhadapku
sebagaimana orang nasrani berlebihan terhadap putera Maryam, aku tidak lain
hanyalah hamban Allah, maka katakanlah: hamba Allah dan rasulnya. (HR.
Bukhari)
Kebanyakan bacaan yang dibaca dalam peringatan maulid nabi yang
berupa pujian kepada beliau sangat berlebihan, dan ini diakui oleh orang yang
mendukung peringatan maulid nabi itu sendiri, terutama ketika sebagian orang
mengarang buku tentang peringatan maulid nabi, kemudian mereka membuatbuat
hadits palsu untuk mendukung perbuatannya. Salah seorang tokoh sufi di
abad ini yaitu Abdullah al-Ghimari berkata: (( “… buku-buku tentang maulid
nabi dipenuhi oleh hadits-hadits palsu, dan ini telah menjadi keyakinan kuat
bagi kalangan awam, aku berharap semoga Allah memberi taufik kepadaku
untuk menulis buku tentang maulid nabi, yang terbebas dari dua hal yaitu:
hadits-hadits palsu, dan sajak yang dipaksakan … jadi berlebihan dalam mumuji
itu tercela, berdasarkan firman Allah swt: ((janganlah kalian berlebihan dalam
agama kalian)), dan juga orang yang memuji nabi saw dengan suatu hal yang
tidak ada dasarnya dari nabi saw maka ia telah berbohong, sehingga ia termasuk
orang yang diancam dalam hadits: barangsiapa yang sengaja berdusta kepadaku
maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka.
3
Fadhilah-fadilah nabi bukanlah suatu hal yang bisa dianggap enteng
dengan menggunakan hadits dhaif dan sebagainya, karena ini berkaitan dengan
pembawa syari’at, nabi umat ini, yang mengharamkan dusta atas nama beliau
dan menjadikannya sebagai salah satu dosa besar, bahkan Abu Muhammad al-
Juwaini, bapak dari Imam al-Haramain berpendapat bahwa orang yg berdusta
atas nama nabi saw, ia kafir. Dengan demikian, hal-hal yang berlebihan yang
terdapat dalam buku-buku maulid nabi, dan kisah isra’ mi’raj tidak ada
dasarnya sama sekali, maka wajib dibakar agar para penulisnya dan orang-orang
yang membacanya tidak dibakar di neraka, kami mohon keselamatan kepada
Allah”. (ini dalam buku tentang kritik terhadap burdatnya al-Bushiri hal 75).
Dan biasanya dalam peringatan maulid diakhiri dengan kata-kata bid’ah dan
tawassul-tawassul yang berbau syirik.
Kemudian dalam peringatan maulid nabi biasanya melakukan beberapa
kesalahan, di antaranya:
Orang-orang yg memperingati maulid menuduh orang-orang yang tidak
merayakannya bahwa mereka tidak mencintai nabi saw, mereka pura-pura tidak
tahu bahwa kecintaan kepada nabi dibuktikan dengan mengikuti sunnah beliau,
bukan dengan berbuat bid’ah, demikan pula hal-hal yg dilakukan pada waktu
memperingati maulid, seperti bacaan-bacaan yang tidak ada dasarnya dari
agama yang dibaca dengan disertai gerakan-gerakan yang tidak pernah diajarkan
dalam agama, disamping kisah-kisah bohong yang dibuat-buat tentang faedah
atau fadhilah memperingati maulid nabi dsb. Syaikh Ali Mahfudz al-Azhari
berkata: “dalam memperingati maulid nabi banyak terjadi pemborosan dan
membuang-buang harta serta waktu yang tidak ada gunanya dan tidak
kebaikannya sama sekali”.(al-Ibda’/324) sedangkan kaidah syar’iyah
mengatakan bahwa suatu yang mubah jika menyebabkan kepada suatu yang
diharamkan maka hukumnya haram.
Seluruh umat islam telah sepakat bahwa merayakan maulid nabi adalah
bid’ah, akan tetapi mereka berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa ia
adalah bid’ah hasanah, dengan alasan bahwa ada maslahat yang mungkin bisa
diperoleh.
Akan tetapi para ulama yang lain, baik dahulu maupun sekarang banyak yang
berfatwa bahwa merayakan maulid hukumnya haram, berdasarkan dali-dalil
syari’at yang mengharamkan bid’ah dalam masalah agama, sedangkan perayaan
maulid termasuk masalah agama, mereka memandang bahwa perayaan maulid
4
adalah suatu kesalahan yang pasti, sedangkan kebaikan yang diharapkan hanya
merupakan dugaan. Kemudian perayaan tersebut tidak pernah dilakukan oleh
nabi saw, dan juga para sahabat, para tabi’in, dan juga periode setelah itu. Dan
juga nabi saw tidak membedakan bid’ah ada yang baik dan buruk, akan tetapi
beliau mengatakan: kullu bid’atin dhalaalah: semua bid’ah adalah kesesatan).
Imam malik berkata: barangsiapa yang berbuat bid’ah dalam islam dan ia
menganggapnya baik, maka ia telah menyangka bahwa Muhammad saw telah
berkhianat terhadap kerasulan, karena Allah swt berfirman: “pada hari ini aku
telah menyempurnakan agamamu”, maka apa yang tidak termasuk agama pada
waktu itu, maka sekarang tidak menjadi agama) (al-I’tisham karangan as-
Syatibi).
Adapun ulama-ulama yang berfatwa bahwa perayaan maulid itu bid’ah,
diantaranya:
Imam Syatibi, beliau menyebutkan di awal kitabnya al-I’tisham (1/34) dan
mengatakan bahwa menjadikan hari kelahiran nabi saw sebagai ied adalah
bid’ah.
Imam al-fakihani dalam bukunya risalah al-Mufradah hal 8-9.
Ulama India, Abu thayyib syamsul Haq, begitu pula gurunya al-Allamah
Basyiruddin Qanuji yang menulis buku dengan judul: ghayatul kalam fii ibthalil
amalil maulid wal qiyam.
Syaikh al-Allamah Abi Abdillah Muhammad al-Haffar al-Maliki salah satu ulama
maroko berkata: (para salafus shalih yaitu para sahabat nabi dan orang-orang
yang mengikuti mereka tidak pernah berkumpul pada malam kelahiran nabi
untuk beribadah, dan tidak melakukan sesuatu yang lebih dari hari-hari biasa,
karena nabi saw tidak mengagugkan sesuatu kecuali yang disyari’atkan oleh
Allah swt… (almi’yaar al-mu’rab 7/99).
Syaikh Muhammad shalih al-Utsaimin kt: (mereka melakukannya dengan alas
an mencintai rasulullah saw, dan mereka ingin mengingat rasulillah saw. Kami
katakan kepada mereka: kami senang jika kalian mencintai nabi saw, dan kami
senang jika kalian ingin mengingat nabi saw, akan tetapi ada ketentuan yang
telah ditetapkan olen Yang Maha Bijaksana, dan tuhan seluruh alam, ada
ketentuan dalam mencintai, yaitu firman Allah swt: katakan, jika kamu
mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah mencintaimu.
5
Jika seseorang jujur dalam pengakuannya mencintai Allah dan rasulnya, makan
hendaklah mengikuti syari’at Allah, dan mengikuti apa yang diajarkan oleh nabi
saw, jika ia tidak mengikutinya, maka pengakuan cintanya dusta. Karena neraca
ini adalah neraka yang jujur dan adil. Oleh karena itu mari kita lihat, apakah
merayakan kelahiran nabi saw termasuk syari’at allah? Apakan nabi saw
melakukannya? Apakan khulafa’ rasyidin melakukannya? Apakah para sahabat
melakukannya? Apakah para tabi’in melakukannya? Jelas jawabnya tidak,
barangsiapa yang mengatakan sebaliknya, maka hendaklah memberikan bukti.
“katakan, sampaikanlah bukti kalian jika kalian benar”).
Syaikh DR. Yusuf al-Qardhawi berkata: … mereka mengatakan bahwa yang
membuat-buat perayaan maulid ini adalah Fathimiyah di mesir, dan dari mesir
menyebar ke Negara-negara lain, ada kemungkinan di balik itu ada tujuan politik
tertentu, mereka ingin mengalihkan perhatian rakyat kepada perayaan maulid
ini, sehingga mereka tidak ikut campur memikirkan urusan politik dan juga
masalah-masalah umum lainnya, oleh karena itu kalau ini dianggap ibadah
maka kami berkata: ibadah ini tida pernah diajarkan dan tidak benar) al-Jazirah.
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam bukunya: bukan termasuk islam hal 252
kt: bertaqarrub dengan mengadakan perayaan maulid adalah ibadah yang tidak
ada dasarnya, oleh karena itu kita memandang bahwa semua perayaan ini
adalah bid’ah yang ditolak dan tidak bisa dibenarkan.. menghilangkan maulid
adalah masalah yang sangat penting baik dari segi agama maupun dunia ..selain
maulid nabi juga peringatan isra’ mi’raj, malam nisfu sya’ban, lailatul qadar, dan
malam awal tahun hijriyah.
Perayaan-perayaan ini telah ditentukan waktunya, dan mengeluarkan biaya
dianggap sebagian syi’ar agama, dan orang-orang awam telah memberikan
perhatian lebih dengan kata-kata dan makanan, apakan hal itu menolong
agama!!.
Ahirnya kita berdoa semoga kita mendapat kekuatan iman dan ilmu yang
bermanfaat sehingga bisa mengamalkan agama dengan benar sesuai dengan
yang diajarkan oleh Allah dan Rasulnya, dan semoga kita dijaga dari kesalah
pahaman terhadap agama yang bisa menggelincirkan kita dari jalah yang lurus.
Amin.

Saya mengakui bahawa saya sebenarnya banyak kekurangan dalam Ilmu pengatahuan agama Islam. Dengan kemudahan Internet dan penulisan blog ini. Saya mengambil kesempatan untuk mencari bahan-bahan bacaan dan Ilmu pengatuhuan tentang ajaran agama Islam yang sebenar. Sebelum ini saya menyimpan fail-fail penting saya sama ada fail saya sendiri mahu pun yang saya download atau pun di copy dari Internet. Pada suatu masa, komputer saya terkena virus. Tak taulah apa masalah sebenarnya, tapi fail-fail yang saya simpan itu semuanya tak boleh dibuka, ada pula yang hilang.

Oleh itu saya terfikir untuk menyimpan fail-fail penting saya untuk rujukan saya, sekaligus dapat juga saya mengkungsikan kepada pembaca selain fail-fail ini selamat tersimpan dan dapat saya membukanya di mana saja saya berada, asalkan ada liputan internet.

Akhir sekali, saya mohon maaf dan ampun sekiranya ada kesilapan dalam ruangan ini. Yang baik itu hanyalah dari padaNya, ynag buruk itu dari saya sendiri. Apa yang penting buatlah kerja dengan jujur dan ikhlias dan kerana Allah SWT. Wallahu A’lam

Wassalamualaikum waRahmatullahi waBarakatuh.
Dikutip dari “waqfah ma’a muhtafilina biyaum 12 rabi’ul awal, oleh: hasan al-

Memperingati Maulud Nabi.

Disusun Oleh:                                                                                                                                                                                                              Hasan al-Husaini

Penerjemah :                                                                                                                                                                                                                 Team Indonesia

Murajaah :                                                                                                                                                                                                                        Abu Ziyad

Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah                                                                                                                                          1428 – 2007

Dikutip dari “waqfah ma’a muhtafilina biyaum 12 rabi’ul awal, oleh: Hasan al- Husaini. http://www.saaid.net

~ oleh myownideasblog di 15 Februari 2011.

Satu Respons to “Memperingati Maulud Nabi”

  1. Asslalamualaykum wbt.

    Terimakasih atas artikel yang cukup baik dan bernilai. Sama-sama kita renungkan dan memikirkan hal ini. Di mana kedudukan kita dan bagaimana kita mencintai Nabi s.a.w.

    Syukran

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: